Topabislah’s Blog

Usaha, Solusi, Cerita dan Tips serta Triks apa saja seputaran kita

Seks Selama Kehamilan

KOMPAS.com — Saat hamil, berhubungan seks memang hampir tidak terpikirkan oleh wanita. Jangankan hendak berhubungan intim, menghadapi mual, muntah, atau rasa lelah saja sudah enggak tahan. Namun, sebagian wanita lain justru tetap merasakan keinginan untuk bercinta saat hamil. Di lain pihak, pria juga menghadapi dilema: sebagian khawatir akan melukai bayi atau pasangannya, dan sebagian yang lain menganggap istrinya yang sedang hamil terlihat lebih seksi.

Sebenarnya, aman-tidaknya berhubungan seks selagi hamil tergantung pada kondisi wanita tersebut. "Seks selama kehamilan cukup aman untuk kebanyakan wanita dengan kehamilan berisiko rendah dan tidak susah," ujar Dayna Salasche, MD, profesor bidang obstetri dan ginekologi di Northwestern University Feinberg School of Medicine, dan dokter kandungan di Northwestern Specialists for Women, di Chicago.

Kondisi per trimester
Selama trimester pertama, kebanyakan wanita memang tidak begitu merasakan keinginan untuk bercinta karena mereka masih merasa begitu lelah dan mual. Namun, pada trimester kedua, "Mereka sudah merasa lebih baik, cairan pelumas juga lebih banyak," papar Monica Foreman MD, dokter kandungan di Montefiore Medical Center di Bronx, NY. Hal ini membuat seks menjadi lebih menarik dan berpotensi lebih memuaskan. Selain itu, wanita juga masih merasa cukup nyaman selama trimester kedua karena perut mereka belum benar-benar membulat. Nah, pada trimester ketiga, perut makin membesar dan kelelahan kembali dirasakan sehingga seks tidak lagi begitu dipikirkan.

Tidak benar bahwa janin bisa terluka bila sang ibu melakukan hubungan seks. “Bayi itu dilindungi dengan baik. Ia berada dalam telur yang dikelilingi bantal sehingga tidak mungkin dapat melukai bayi. Bila para calon ayah mengetahui hal ini, biasanya mereka merasa lebih baik," ujar Salasche.

Namun, mengalami orgasme saat usia kandungan mendekati saatnya melahirkan menyebabkan pelepasan prostaglandins. Secara teori hal ini menyebabkan kontraksi. “Pada usia kehamilan 40 minggu, hal ini tidak berbahaya," tegas Foreman.

Posisi yang disarankan
Saat perut semakin membesar, gaya missionary (pria di atas) lebih tidak nyaman untuk wanita, demikian menurut Foreman. Ia menyarankan posisi yang lebih nyaman, yaitu intercourse dari belakang atau dari samping ke samping (spooning).

"Posisi punggung si wanita seharusnya tidak datar karena rahim yang terus berkembang dapat menekan pembuluh darah utama," jelas Salasche. Hal ini dapat menyebabkan tekanan dan sakit pada panggul. Fenomena ini umumnya terjadi pada trimester ketiga. Berbaring telentang juga menyebabkan sindrom hipotensif telentang yang mengakibatkan perubahan detak jantung dan tekanan darah. Bila ini terjadi, wanita bisa merasa pusing.

Aktivitas seksual yang perlu dihindari selama kehamilan adalah seks oral. "Jika seks oral dilakukan pada wanita hamil, udara tertiup ke dalam vagina sehingga wanita bisa mengembangkan udara ke pembuluh darah yang lalu akan bermigrasi ke paru-paru, dan berpotensi memberikan konsekuensi yang fatal," tukas Salasche.

Peka pada kondisi tubuh
Seks selama kehamilan bisa menjadi kurang aman bagi wanita yang memiliki sejarah keguguran berulang, kelahiran prematur, pendarahan, atau inkompetensi leher rahim (kondisi di mana leher rahim membesar tanpa kontraksi pada trimester kedua atau awal ketiga, ketika berat bayi menambah tekanan pada leher rahim). Wanita dengan placenta previa (kondisi plasenta menutupi leher rahim) juga berisiko terjadinya hemorrhaging (pendarahan) jika melakukan hubungan seks selama kehamilan. Wanita dengan rekahan membran prematur, yang terjadi ketika kantong yang berisi janin dan air ketuban meletus sebelum waktunya, juga perlu menghindari hubungan seks saat hamil.

“Jika tidak ada kontraindikasi, wanita bisa melakukan intercourse sepanjang kehamilannya," ujar Foreman. Namun, jika setelah melakukan hubungan seks Anda mengalami pendarahan atau bau tidak sedap, ia menyarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter. Hal ini bisa menjadi tanda adanya infeksi yang dapat berpindah ke rahim.

Pendek kata, Anda boleh melakukan hubungan seks, namun tetaplah peka dengan kondisi tubuh maupun gejala-gejala yang muncul setelah melakukannya. Setelah itu, Anda cukup menikmati hubungan itu dan selalu terbuka pada suami mengenai apa yang membuat Anda nyaman atau tidak.

Juni 10, 2009 - Posted by | Laki-laki, Perempuan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: