Topabislah’s Blog

Usaha, Solusi, Cerita dan Tips serta Triks apa saja seputaran kita

Sidang Penembakan Pasi Intel WAN KHAIRUL DIDAKWA LAKUKAN PENGGELAPAN

Barang bukti bantal

Kepala Bengkel Senjata (Kabenjat) Paldam Iskandar Muda (IM) Banda Aceh, Letnan CPL M Isa (kanan), selaku saksi ahli menjelaskan posisi barang bukti bantal dalam kasus penembakan Pasi Intel Kodim Aceh Selatan kepada majelis hakim dalam sidang lanjutan di Pengadilan Militer 0101 Banda Aceh, Senin (1/6). SERAMBI/MURSAL ISMAIL

BANDA ACEH – Serda Wan Khairul Ansar yang didakwa sebagai penembak atasannya Pasi Intel Kodim 0107, Aceh Selatan, Kapten Arm Sukhairawan hingga tewas, 7 September 2008, dihadapkan pada kasus baru. Dalam sidang Senin (1/6) ia didakwa menggelapkan uang milik korban Rp 50 juta. Begitupun motif penembakan disebut-sebut karena terdakwa tak membayar utang. Terhadap tudingan ini terdakwa membantah.

Sebelum sampai pada dakwaan, majelis hakim Pengadilan Militer 01-01 Banda Aceh melanjutkan sidang terhadap Wan Khairul atas perkara penembakan. Istri korban, AKP Suhana Sinaga (37) dan anggota Kodim O1O7 Aceh Selatan, Sertu Novri Wawan diperiksa sebagai saksi. Menurut Suhana, usai peristiwa jelang berbuka puasa, Dandim Aceh Selatan menghubunginya lewat HP memberitahukan suaminya meninggal akibat bunuh diri. Suhana bersama keluarga yang tinggal di Medan belum bisa mempercayai hal itu apalagi empat hari sebelum meninggal, almarhum pulang ke rumah di Medan.

“Saya dan keluarga sangat sedih, ketika Dandim memvonis suami saya meninggal atas kemauannya sendiri atau bunuh diri, tanpa mengatakan dilakukan penyelidikan terlebih dahulu,” ujar Suhana yang juga Polwan itu. Dia mengakui dua hari usai peristiwa, Dandim Aceh Selatan menyampaikan hal serupa saat dikonfirmasi salah satu harian lokal di Medan. Saat itu kesan yang muncul korban meninggal akibat bunuh diri. Malah, ujar Suhana jangankan mengantar jenazah korban ucapan duka cita saja tak ada dari dandim. “Saya sedih, padahal di Kodim Aceh Selatan suami saya orang nomor tiga. Meninggalnya suami saya, apa ibarat mati kucing. Sehingga saya jadi curiga, kematian suami saya seperti sudah diatur, saya tetap berkeyakinan suami saya bukan bunuh diri,” tambah Suhana.
Menurut Suhana, pada Agustus 2008, korban memberitahukan pada dirinya untuk meminjam uang atas nama korban Rp 50 juta di BRI Medan. Korban mengaku uang tersebut untuk bisnis jual beli bahan bakar minyak (BBM) di Aceh Selatan. Awalnya ia mempertanyakan bisnis itu karena menurutnya TNI tak boleh menjalankan bisnis BBM. Tetapi ia mengizinkan permintaan itu karena saat itu korban menjelaskan bisnis itu di bawah kendali komando. Sedangkan komunikasi terakhir terjadi empat hari sebelum peristiwa tersebut. “Saat itu suami saya hanya mengatakan sudah tiba di Aceh Selatan. Sebelumnya, ia seminggu di Medan dan tak menceritakan ada sesuatu masalah menimpanya,” tambah Suhana.
Ditanya apakah korban pengguna sabu-sabu, karena usai peristiwa di TKP, yaitu kamar korban Mes Kodim Aceh Selatan ditemukan satu bong sabu-sabu, Suhana mengakui hal itu direkayasa. Pasalnya, sebelum almar-hum tiba ke rumah orang tuanya di Rantau Prapat, Sumut, keesokan hari usai peristiwa, Pasi Min Kodim Aceh Selatan, sempat memeriksa urine (kencing) dan darah korban di RS di kawasan Tanjung Morawa, Medan. Hasilnya almarhum tak menggunakan narkoba.
Rekan terdakwa, Novri Wawan mengaku terakhir jumpa terdakwa di Mes Kodim Aceh Selatan, Sabtu, 6 September 2008 sekira pukul 10.00 WIB. Saat itu terdakwa datang ke mes itu dan sempat menanyakan keberadaan Pasi Intel Sukhairawan sekira pukul 10.00 WIB. Namun, keterangan itu dibantah terdakwa dan ia mengaku pada hari itu tak pernah jumpa Novri.
Selanjutnya, majelis hakim diketuai Mayor CHK Gatut Sulistyo, memeriksa saksi ahli senjata api, Kepala Bengkel Senjata (Kabenjat) Paldam IM, Letnan CPL M Isa. Usai meneliti dua bantal sebagai barang bukti yang disebut-sebut peredam suara tembakan, M Isa mengatakan berdasarkan bekas tembakan dari luar bantal, menurutnya hal itu tak mampu meredam suara karena pistol bukan dimasukkan ke dalam bantal. Suara tembakan tidak terdengar karena ruangan kamar 5X4 tertutup dan ber AC. M Isa tak mau menjawab ketika majelis hakim menanyakan kemungkinan terdakwa bunuh diri. “Kalau itu bukan kapasitas saya,” jawab M Isa. Sedangkan terdakwa didampingi pengacarnya mengaku tak tahu menahu.

Didakwa penggelapan

Usai sidang itu, Oditur Militer Banda Aceh, Kapten CHK Ojahan Silalahi SH membacakan dakwaan penggelapan uang milik korban Rp 50 juta oleh terdakwa. Dalam pemeriksaan, ter-dakwa mengaku telah mengembalikan uang itu Rp 38 juta, Rp 3 juta sebelum korban meninggal, Rp 35 juta saat korban telah meninggal. Terhadap kasus penggelapan, terdakwa akan dituntut pada sidang lanjutan, Kamis (4/6). Pada hari sama terdakwa harus menjalani sidang kasus penembakan dan agenda sidang pemeriksaan saksi lain.

http://www.serambinews.com/news/wan-khairul-didakwa-lakukan-penggelapan

Juni 4, 2009 - Posted by | TNI

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: