Topabislah’s Blog

Usaha, Solusi, Cerita dan Tips serta Triks apa saja seputaran kita

AMBALAT TEGANG, RI SIAP PERANG TNI PERKUAT PASUKAN

Nunukan (Espos)  Ketegangan yang meningkat di Ambalat membuat Satuan Tugas Ambalat IX Marinir di Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, meningkatkan latihan militernya.

Latihan telah difokuskan untuk ber-perang sesungguhnya jika terjadi kontak senjata dengan tentara diraja Malaysia di perairan Ambalat.

Sementara itu, Selasa (2/6), provokasi kapal perang Malaysia ke perairan Indonesia terus terjadi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegas-kan, soal kedaulatan RI adalah harga mati.

Provokasi kapal perang Malaysia kembali terjadi pada Selasa pukul 14.00 Wita. Kapal laut Malaysia KD Baung-3509 masuk perairan Ambalat, wilayah Indonesia, sejauh 2 mil laut.
Kapal ini berlayar dari arah barat menuju ke timur, lalu masuk ke blok Ambalat. Kehadiran kapal ini langsung dihalau oleh KRI Suluh Pari dan pesawat Nomad milik TNI AL yang terbang dari Pangkalan TNI AL di Tarakan.

”Hanya dalam hitungan menit, Daung-3509 berhasil dihalau KRI Suluh Pari dan pesawat Nomad,” kata Kepala Dinas Penerangan Armada Timur TNI AL, Letnan Kolonel Laut Toni Syaiful, sebagaimana dikutip dari Tempo-interaktif.com.

Sementara itu, Komandan Pleton Taifib (pasukan elite marinir) di Sebatik, Letnan Dua Marinir Denny Aprianto mengungkapkan, latihan perang yang dilakukan adalah memetakan posisi strategis jika terjadi perang sesung-guhnya. Menurutnya, pasukannya telah mendapatkan perintah dari atasan untuk meningkatkan kewaspadaan dengan melaksanakan latihan perang. ”Latihan kami sudah fokuskan pada perang, seiring meningkatnya konflik RI-Malaysia di perairan Ambalat,” kata Denny.

Satuan Tugas Ambalat IX Marinir di Sebatik dibawah komando Yonif 3 Marinir Surabaya menurutnya kini di-siagakan sebanyak 130 anggota marinir, termasuk pasukan satu tim Taifib sebanyak tujuh orang. Ia mengaku dengan latihan yang intensif, seluruh pasukan telah siap berperang, tinggal menunggu perintah dari atasan.

Peralatan perang yang sudah dibawa oleh peleton Taifib Marinir itu, diantaranya senjata sniper jenis NPW 20 milimeter dan senjata sniper SPR 7,62 milimeter. Sedangkan persenjataan untuk marinir adalah JPMG atau alat tempur penghancur bangunan serta pos penjagaan sebanyak 10 unit. ”Intinya kami tak ingin Indonesia diremehkan oleh Malaysia,” kata Danny Aprianto.

Sementara TNI AL berencana menarik KRI Hasanuddin dari perairan blok Ambalat. Dua kapal perang disiapkan untuk menggantikan KRI Hasanuddin. ”Rencananya demikian, dua kapal perang sekarang sedang menuju ke Ambalat,” kata Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Nunukan, Letkol Laut (P) Djatmoko, Selasa.

Menurutnya kapal perang yang secara rutin beroperasi di blok Ambalat hingga saat ini KRI Hasanuddin, KRI Untung Suropati, KRI Rimau, KRI Solo Pari, KRI Sultan Nuku. Dengan ditariknya KRI Hasanuddin dan digantikan dua kapal perang lain, artinya ada enam kapal perang Indonesia yang akan beroperasi.
Presiden SBY sebelum bertolak ke Jakarta dari kunjungannya di Jeju, Korea Selatan menyatakan, kedaulatan RI adalah harga mati. ”Setiap jengkal wilayah laut pun, kalau itu wilayah indonesia, harus kita pertahankan. Tidak akan ada kompromi, toleransi, karena itu harga mati,” kata Presiden kepada wartawan, di The Shilla Hotel, Jeju, Selasa.

Namun meskipun begitu, Presiden akan berupaya melakukan penyelesaian melalui jalan damai dan negosiasi akan diutamakan. ”Jadi saya tegaskan sekali lagi kapada seluruh rakyat bahwa posisi kita jelas, yang diklaim itu adalah wilayah indonesia dan kita tidak bisa menerima,” katanya.

Sementara itu dari Gedung DPR, Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD), Syarif Hasan menyatakan, sesuai amanat UU, Presiden bisa saja menyatakan perang terhadap Malaysia yang berulang kali memasuki wilayah Indonesia.
”Presiden bisa saja menyatakan perang (dengan Malaysia). Tapi apa mungkin DPR setuju?” kata Syarif.

RI-Malaysia di Ambalat
1980
Indonesia menyatakan wilayah Ambalat seluas 6.700 kilometer persegi adalah milik Indonesia berdasarkan Deklarasi Djuanda 1957.
1990
Pertamina menyerahkan kontrak Blok Ambalat kepada ENI (Italia). Sedangkan konsesi Ambalat Timur diberikan kepada Chevron.
2002
Sengketa Sipadan-Ligitan, Mahkamah Internasional memutuskan Pulau Sipadan dan Ligitan milik Malaysia tahun 2002. Malaysia kemudian mengklaim sebagian Blok Ambalat yakni Blok ND 6 dan ND 7 yang kaya minyak menjadi miliknya.
2003
Malaysia memberikan konsensi ke Petronas dan Shell.
2005-2008
Hubungan RI-Malaysia memanas. Kapal perang Malaysia memasuki wilayah Ambalat dan beberapa kali melakukannya. Hingga 2008 tercatat lebih dari 26 kali.
Mei 2009
Tiga kapal perang Malaysia berikut helikopternya kembali memasuki wilayah Indonesia.

http://www.solopos.net/zindex_menu.asp?kodehalaman=h01&id=274031

Juni 4, 2009 - Posted by | TNI

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: