Topabislah’s Blog

Usaha, Solusi, Cerita dan Tips serta Triks apa saja seputaran kita

ANTARA MANI DAN MADZI « Konsultasi Islam

Tanya :

Ustadz yang harus mandi itu kalau keluar mani atau madzi? Seperti apa bedanya antara mani dan madzi itu?

Jawab :

Yang mengharuskan mandi itu adalah jika keluar mani, bukan madzi, baik mani itu keluar karena bersenggama (jima’), mimpi, maupun onani (istimna`). Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya air itu adalah dari air.” (innama al-maa`u min al-maa`i) (HR Muslim) (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/37). Maksud hadits tersebut, sesungguhnya mandi itu adalah karena keluarnya mani.

Jika yang keluar adalah madzi, cukup dibasuh, tidak wajib mandi. Namun keluarnya madzi membatalkan wudhu. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA,”Aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi, tapi aku malu bertanya kepada Rasulullah SAW karena kedudukan puteri beliau [sebagai isteriku]. Maka aku memerintahkan Miqdad bin Al-Aswad al-Kindi untuk bertanya kepada Rasulullah SAW. Maka berkatalah Rasulullah SAW,”[Hendaklah dia] membasuh zakarnya dan berwudhu.” (HR Bukhari dan Muslim) (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/32).

Mani beda dengan madzi. Kalau madzi, adalah cairan yang keluar karena rangsangan seksual. Sedangkan mani adalah cairan yang mempunyai 3 (tiga) ciri khas yang membedakannya dengan madzi (dan juga wadi). Pertama, mempunyai bau yang khas yang agak kuat. Jika sudah kering baunya seperti telur. Kedua, keluar dengan cara terpancar, dengan beberapa kali pancaran/hentakan. Ketiga, keluarnya disertai dengan rasa nikmat, yang diikuti dengan redanya syahwat. Jika salah satu dari tiga ciri ini terwujud, tidak harus ketiga-tiganya, sudah cukup suatu cairan disebut mani. (Taqiyuddin al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I/37).

Sedangkan wadi, adalah cairan yang keluar pada saat kencing. Wadi membatalkan wudhu sebagaimana madzi. Madzi dan wadi adalah najis, sedangkan mani suci. (Lihat Syaikh Ali ar-Raghib, Ahkamush Shalat, Bab Mandi Besar (al-ghuslu) dan bab Macam-Macam Najis (al-najasat). Wallahu a’lam.[ ]

Yogyakarta, 13 Nopember 2006

Muhammad Shiddiq al-Jawi

Mei 17, 2009 - Posted by | Seputar Agama

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: